Libya tetap harus jadi Libya, apalagi diwarnai Eropa yang nota bene adalah sangat bertolak belakang dengan akidahnya. Rakyat Libya mendengarkan pidato perdana menteri Turki Jumat kemarin (16/9) dengan penuh antusias di Tripoli.
PM Turki Recep Tayyip Erdogan tiba di Lapangan Syuhada ibukota Libya setelah menjalani shalat Jumat di sebuah masjid di kota itu. Erdogan menerima sambutan antusias dari rakyat Libya dan warga Turki yang tinggal di Libya, yang sengaja datang ke alun-alun untuk mendengarkan pidatonya.
Lapangan syuhada dihiasi dengan bendera Turki dan Libya, dan spanduk dalam tulisan Arab "Erdogan di samping kami, Saling Bergandengan tangan", dan "Terima kasih Turki, terima kasih Erdogan" yang digantung di gedung-gedung di sekitar lapangan.
Semua jalan ditutup untuk arus lalu lintas, sementara pasukan keamanan Turki dan kekuatan oposisi bersenjata Libya mengambil langkah pengamanan ketat di sekitar alun-alun. Hal ini sangat penting dalam mengambil warna politik di Libya yang sedang mengalami revolusi rakyat Libya. Jangan sampai Libya di-Irak-kan oleh pihak Barat.
Selama pidato Erdogan, warga Libya meneriakkan slogan-slogan yang mendukung pemberontakan di Suriah. Salah satu jalan menuju persatuan Arab dan kekuatan kebangkitan Islam yang dimulai dari negeri Muslim di Timur Tengah. Kebangkitan dan kekuatan Politik berlandaskan syariah harus tegak di wilayah ini dan seluruh dunia.



